Pengawasan Persalinan dengan
Partograf
Partograf
adalah catatan grafik kemajuan persalinan guna memantau keadaan ibu dan janin,
dipakai untuk menemukan adanya persalinan abnormal, sebagai petunjuk untuk
melakukan bedah kebidanan serta menemukan disproporsi kepala janin dan panggul
ibu jauh sebelum persalinan menjadi macet.
Saat
Partograf Diisi
1. Mereka yang masuk dalam
persalinan.
o Fase laten (pembukaan
< 3 cm) dengan his teratur frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit, lama <
20 detik.
o Fase aktif (pembukaan 3
cm) dengan his teratur frekuensi minimal l kali dalam 10, menit lama < 20
detik.
2. Mereka yang masuk dengan
ketuban pecah spontan tanpa adanya his.
o Bila infus oksitosin
dimulai.
o Bila persalinan
mulai.
3. Mereka yang masuk untuk
induksi persalinan.
o Pemecahan ketuban
dengan atau tanpa infus oksitosin.
o Induksi medis (hanya
infus oksitosin, pemasangan kateter Folley, pemberian prostaglandin). Partograf mulai diisi bila persalinan dimulai
atau bila ketuban pecah (spontan/dibuat).
Saat
Partograf Tidak Diisi
1. Pembukaan > 9
cm saat datang.
2. Seksio sesaria elektif.
3. Seksio sesaria darurat
saat datang.
4. Usia kehamilan < 34
minggu.
Pengamatan
yang Dicatat
1. Kemajuan persalinan:
pembukaan serviks; turunnya kepala (dengan palpasi perut: seperlimaan kepala
janin yang teraba); his (frekuensi/10 menit, lamanya).
2. Keadaan janin: frekuensi
denyut jantung janin; warna, jumlah, dan lamanya ketuban pecah; molase kepala
janin.
3. Keadaan ibu: nadi,
tekanan darah, dan suhu; urin (volume, protein, dan aseton); obat-obatan dan
cairan intravena; pemberian oksitosin.
Pembukaan
Serviks
Kala I persalinan dibagi menjadi fase laten dan fase
aktif. Fase laten (kurun lambat dari
pembukaan) berlangsung dari pembukaan 0-3 cm dengan penipisan bertahap
serviks. Fase aktif (kurun cepat
pembukaan) berlangsung dari pembukaan 3-10 cm dengan kecepatan
sekurang-kurangnya 1 cm/jam.
Di
tengah partograf terdapat grafik.
Sepanjang sisi kirinya terdapat angka 0-10 yang menunjukkan pembukaan 1
cm per kotak. Sepanjang sisi horizontal
terdapat angka 0-24 yang setiap kotaknya menunjukkan waktu 1 jam. Catat pembukaan dengan tanda "X". Lakukan
periksa dalam pertama, mencakup pemeriksaan panggul, sewaktu masuk kamar
bersalin. Selanjutnya periksa dalam
setiap 4 jam.
Pada
fase aktif terdapat 2 garis, yaitu garis waspada dan garis tindakan. Garis waspada (alert line) dilukiskan lurus mulai dari
pembukaan 3 cm sampai 10 cm, sesuai kecepatan pembukaan pada fase ini sehingga
ini ditempuh dalam waktu 7 jam. Apabila
pembukaan serviks bergeser ke arah kanan garis waspada, berarti proses kemajuan
persalinan lambat dan harus dipikirkan kemungkinan mengambil tindakan.
Garis
bertindak (action line) digambarkan 4
jam dari garis waspada yang merupakan garis lurus dan sejajar garis
waspada. Bila persalinan berjalan
lancar, pembukaan senantiasa berada di sebelah kiri garis bertindak. Apabila pembukaan melewati garis ini,
diperlukan keputusan yang tepat untuk melakukan tindakan.
Penurunan
Kepala
Pada
persalinan yang lancar, bertambahnya pembukaan akan disertai dengan turunnya
kepala janin. Periksa turunnya kepala janin dengan pemeriksaan perut ibu memakai
ukuran perlimaan di atas pintu panggul.
Kepala yang masil berada di atas masih dapat diraba dengan lima jari
rapat (5/5). Kepala yang sudah turun
masih teraba sebagian di atas simfisis oleh beberapa jari (4/5, 3/5, dst.).
Kepala yang sudah masuk pintu atas panggul (engaged) masih dapat diraba di atas
simfisis dengan dua jari (2/5) atau kurang.
Di sisi kiri partograf terdapat tulisan “penurunan kepala”
yang dibuat garis dari 5 ke 0. Turunnya kepala ditandai dengan 0 pada grafik
pembukaan serviks.
Gambar Penurunan kepala janin
His
Pada
persalinan normal, makin maju persalinan berlangsung,
his akan makin lama, makin sering, dan makin sakit. Lakukan pengamatan his
setiap jam pada fase laten dan setiap setengah jam pada fase aktif. Hal yang
diamati adalah frekuensi (berapa sering yang dirasakannya dalam 10 menit) dan lama masing-masing his
berlangsung (dalam detik).
Di
bawah garis waktu ada lima kotak kosong melintang yang pada sisi kirinya
tertulis his/10 menit. Satu kotak menggambarkan satu his. Kalau ada dua his dalam
10 menit, diarsir 2 kotak. Lamanya his digambarkan dengan arsiran yang
berbeda dalam
kotak. Lama his < 20 detik berupa
titik-titik pada kotak, 20-40 detik berupa garis miring dan > 40 detik
dihitamkan sepenuhnya.
Bunyi
Jantung Janin
Waktu yang terbaik untuk mendengarkan BJJ ialah segera
setelah fase terkuat his lewat. Dengarkan BJJ selama 1 menit, sedapat mungkin
ibu dalam posisi miring.
Denyut
jantung > 160/menit (takikardi) dan < 120/menit (bradikardi) merupakan
indikasi adanya gawat janin. Bila
terdengar BJJ abnormal, dengarkan setiap 15 menit selama 1 menit segera setelah
his selesai. Bila BJJ tetap abnormal
dalam 3 kali pengamatan, tindakan harus segera diambil kecuali bila persalinan
sudah sangat dekat.
Denyut
jantung 100/menit atau kurang menunjukkan adanya gawat janin hebat dan tindakan
harus segera diambil.
Selaput
dan Air Ketuban
Keadaan
air ketuban membantu menentukan keadaan janin.
Ada 4 pengamatan yang harus dicatat segera pada partograf tepat di bawah
catatan denyut jantung janin, yaitu jika:
o selaput ketuban utuh
tuliskan “U”.
o selaput ketuban sudah
pecah dan air ketuban jernih “J”.
o air ketuban diwarnai
mekonium “M”.
o tidak ada air
ketuban/kering “K”.
Pengamatan
ini harus dilakukan setiap periksa dalam.
Bila terdapat mekonium kental atau air ketuban tidak ada saat selaput
ketuban pecah/dipecahkan, dengarkan denyut jantung janin lebih sering karena hal
itu dapat merupakan tanda gawat janin.
Molase
Tulang Kepala Janin
Molase
merupakan petunjuk penting adanya disproporsi kepala panggul. Molase yang hebat dengan kepala janin jauh di
atas pintu atas panggul merupakan petunjuk adanya disproporsi kepala panggul
yang hebat. Catatan dibuat tepat di
bawah catatan keadaan air ketuban:
0 tulang-tulang kepala terpisah dan
sutura masih teraba
+ tulang-tulang kepala saling menyentuh
satu sama lain
++ tulang-tulang kepala saling bertumpang
tindih
+++ tulang-tulang kepala saling bertumpang
tindih hebat
Nadi,
Tekanan Darah, dan Suhu
Nadi
diperiksa setiap setengah jam, sedangkan tekanan darah dan suhu diperiksa setiap
4 jam atau lebih sering, tergantung indikasi.
Urin
Ibu
dianjurkan miksi setiap 2-4 jam untuk mengukur volume urin. Selain itu, diperiksa pula protein dan aseton
urin.
Obat-obatan
dan Cairan lntravena
Dicatat
dalam kolom di bawah his.
Pemberian
Oksitosin
Ada
kolom khusus untuk titrasi oksitosin di atas kolom obat dan cairan
intravena.
Penanganan
Persalinan Abnormal
1. Bila grafik pembukaan
bergeser ke sebelah kanan garis waspada.
a. Dipuskesmas: segera
rujuk ibu ke RS kecuali bila pembukaan hampir lengkap.Namun, bila kepala janin
masih tinggi walau his baik dan pembukaan sudah memuaskan, ibu harus tetap
dirujuk ke RS.
b. Di rumah sakit dengan
alat kebidanan lengkap: periksa ulang persalinan secara cermat dan ambil
keputusan untuk penanganan selanjutnya.
2. Bila grafik pembukaan
mencapai garis tindakan, ada 3 pilihan, yaitu akhiri persalinan, percepat
persalinan, atau amati ibu disertai pemberian terapi suportif.
Untuk
mempercepat persalinan bila selaput ketuban masih utuh, pecahkan ketuban sebelum
infus oksitosin dimulai.
Pada primigravida dengan his yang kurang efisien,
lakukan hidrasi secukupnya. Catat pemberian hidrasi dalam kolom cairan intravena
pada partograf. Berikan analgesik secukupnya dan catat dalam kolom obat-obatan
pada partograf Lanjutkan dengan pemberian infus oksitosin. Infus harus dititrasi terhadap his dan
ditingkatkan setiap setengah jam sampai his 34 kali/10 menit dengan lama 40-50
detik. Pertahankan keadaan infus selama
persalinan kala II dan III. Catat dosis
dan kecepatan pemberian pada partograf. Periksa keadaan persalinan, janin, dan
ibu dengan lebih sering. Batasi waktu
untuk mengakhiri persalinan 6-8 jam setelah infus oksitosin dimulai. Bila terjadi hiperaktivitas uterus atau gawat
janin, infus oksitosin harus dikurangi atau dihentikan sama sekati.
Pada multigravida, berikan hidrasi dan analgesik
secukupnya seperti pada primigravida.
Bila diperlukan infus oksitosin, keputusan harus dibuat oleh dokter yang
berpengalaman.
3. Bila selaput ketuban pecah
lebih dari 12 jam dan persalinan masih lama, berikan antibiotik.
4. Bila terjadi gawat janin
a. Di puskesmas: ibu harus
dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas tindakan kebidanan
b. Di rumah sakit:
penanganan segera:
o Bila sedang diinfus
oksitosin, hentikan infus.
o Ibu diminta berbaring
di sisi kirinya.
o Periksa dalam untuk
menyingkirkan prolaps tali pusat (menumbung) dan amati
warna air ketuban.
o Berikan cairan
secukupnya.
o Bila ada, berikan
oksigen.
5. Bila fase laten
berlangsung lama (lebih dari 8 jam), dokter yang bertugas harus mengambil
tindakan. Tindakan yang diambil serupa
dengan tindakan pada fase aktif bila garis tindakan tercapai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar